Karanganyar – Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora) menyiapkan program pendampingan literasi keuangan bagi para atlet Paralimpiade guna memastikan kesejahteraan mereka hingga masa pensiun.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir, saat melakukan kunjungan ke Paralympic Training Center Indonesia di Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (14/2/2026).
Menurut Menpora, atlet-atlet disabilitas yang meraih prestasi gemilang pada ajang ASEAN Para Games 2025 dan berpotensi menerima bonus besar dari pemerintah perlu dibekali kemampuan manajemen keuangan yang baik. Ia menegaskan, bonus bernilai fantastis tidak boleh habis untuk kesenangan sesaat, melainkan harus dikelola menjadi aset produktif untuk masa depan.
“Kita juga akan mendampingi melalui financial literacy (literasi keuangan) supaya para atlet ini bisa menabung dan melakukan hal lain untuk masa depannya,” ujar Erick Thohir.
Ia menambahkan, keberhasilan meraih 135 medali emas di ASEAN Para Games 2025 patut diapresiasi, namun pemerintah tidak ingin larut dalam euforia. Fokus berikutnya adalah mempersiapkan atlet menghadapi ajang yang lebih besar, yakni Asian Para Games 2026 di Jepang.
Kemenpora terus melakukan koordinasi dan konsolidasi program latihan nasional (pelatnas) secara berkelanjutan meskipun di tengah keterbatasan anggaran. Erick memastikan bahwa pemerintah tetap berupaya menyisir dan mengoptimalkan anggaran demi mendukung target prestasi ke depan.
“Kami juga akan mengundang NPC untuk duduk bersama, membahas target-target yang ingin dicapai serta melakukan evaluasi bersama,” tegasnya.
Dengan kombinasi pembinaan prestasi dan penguatan literasi finansial, Kemenpora berharap para atlet tidak hanya berjaya di arena pertandingan, tetapi juga memiliki jaminan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi setelah masa aktif mereka berakhir.
Tim Redaksi
