JAKARTA – Mengurangi bahkan menghentikan penggunaan media sosial secara kolektif bersama anggota keluarga dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental. Hal ini terungkap dalam studi yang dilakukan oleh Princeton University di Amerika Serikat bekerja sama dengan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Temuan penelitian tersebut disampaikan melalui kanal YouTube SMRC TV pada Minggu (15/3/2026).
Profesor Nicholas Kuipers dari Princeton University menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan memberikan penjelasan ilmiah mengenai pengaruh penggunaan media sosial terhadap kondisi mental masyarakat.
“Studi ini bertujuan untuk mencari penjelasan ilmiah dan meyakinkan tentang pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental,” ujar Nicholas.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, memaparkan bahwa survei bertajuk “Efek Media Sosial terhadap Kesehatan Mental” menggunakan metode eksperimental terhadap pengguna media sosial di 30 ibu kota provinsi di Indonesia.
Menurutnya, secara umum kondisi kesehatan mental responden berada pada kategori cukup baik. Dari hasil survei, sekitar 1 persen responden memiliki kondisi kesehatan mental dan emosional yang sangat buruk, 9 persen cukup buruk, 48 persen cukup baik, dan 42 persen sangat baik.
Dalam skala 0–100, di mana 0 berarti sangat buruk dan 100 sangat baik, rata-rata skor kesehatan mental responden tercatat sebesar 71,2.
Selama periode penelitian satu bulan, kelompok responden yang tetap menggunakan media sosial seperti biasa (kelompok kontrol) mengalami penurunan skor kesehatan mental dari 71,1 menjadi 70,4.
Sementara itu, kelompok responden yang diminta menghentikan penggunaan media sosial secara pribadi (kelompok T1) menunjukkan skor yang relatif stabil dari 71,7 menjadi 71,8. Adapun kelompok responden yang menghentikan penggunaan media sosial secara bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga (kelompok T2) mengalami peningkatan skor dari 71,3 menjadi 72,2.
“Data ini menunjukkan deaktivasi media sosial, terutama jika dilakukan bersama seluruh anggota keluarga, terlihat berdampak meningkatkan kesehatan mental dan emosional,” jelas Deni.
Penelitian ini melibatkan 1.502 responden berusia 18 tahun ke atas yang aktif menggunakan media sosial setiap hari, dengan setidaknya satu dari lima platform utama seperti YouTube, TikTok, Instagram, X, dan Facebook.
Responden dipilih secara acak menggunakan metode stratified multistage random sampling dan diwawancarai secara daring sebanyak dua kali dalam bentuk panel.
Pada tahap pertama, responden menjalani aktivitas normal menggunakan media sosial. Setelah itu mereka dibagi secara acak menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok yang diminta menghentikan penggunaan media sosial secara individu (T1), kelompok yang menghentikan penggunaan media sosial bersama seluruh anggota rumah tangga (T2), serta kelompok kontrol yang tetap menggunakan media sosial seperti biasa.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan melalui video presentasi di kanal YouTube SMRC, sementara laporan lengkap survei dapat diakses melalui situs resmi SMRC.
