Pekanbaru — Kedatangan tiga unit jet tempur Rafale pertama milik TNI Angkatan Udara (TNI AU) menarik perhatian media internasional, khususnya media Amerika Serikat. Pesawat tempur multirole buatan Dassault Aviation asal Prancis tersebut mendarat dengan mulus di Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, pada Jumat (30/1/2026), menandai babak baru dalam upaya modernisasi alutsista udara Indonesia.
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia memastikan bahwa ketiga unit Rafale tersebut telah melalui tahapan penerimaan dan dinyatakan siap untuk mendukung operasional TNI AU. Kehadiran Rafale menjadi langkah awal dari program penguatan kekuatan udara nasional, seiring rencana kedatangan unit-unit tambahan yang dijadwalkan menyusul hingga akhir tahun 2026.
Media Amerika Serikat menilai pengadaan Rafale sebagai sinyal keseriusan Indonesia dalam meningkatkan kemampuan pertahanan udara, khususnya dalam menghadapi tantangan keamanan kawasan yang semakin kompleks. Rafale dikenal sebagai pesawat tempur generasi 4,5 yang memiliki kemampuan tempur udara-ke-udara, udara-ke-darat, serta dukungan peperangan elektronik canggih.
Namun demikian, di balik apresiasi tersebut, sejumlah media dan pengamat pertahanan di Amerika Serikat juga menyampaikan peringatan terkait strategi pengadaan pesawat tempur Indonesia yang dinilai terlalu beragam. Indonesia diketahui tengah mempertimbangkan atau menjajaki pembelian berbagai platform pesawat tempur dari sejumlah negara, mulai dari Rafale (Prancis), KAAN (Turki), F-15EX (Amerika Serikat), hingga jet tempur dari China dan Rusia seperti J-10 dan Su-35.
Para analis menilai pendekatan pengadaan multi-sumber atau yang kerap disebut sebagai armada “gado-gado” berpotensi menimbulkan tantangan serius dalam jangka panjang. Perbedaan sistem persenjataan, standar pemeliharaan, rantai pasok suku cadang, hingga metode pelatihan pilot dan teknisi dinilai dapat membebani anggaran pertahanan dan kompleksitas logistik TNI AU.
Selain itu, interoperabilitas antar-satuan udara juga menjadi perhatian. Ketidaksamaan sistem avionik dan komunikasi antar jenis pesawat dikhawatirkan dapat mengurangi efektivitas operasi gabungan dalam situasi tempur sesungguhnya. Jika tidak dikelola dengan matang, kondisi ini berpotensi memengaruhi kesiapan tempur secara keseluruhan.
Meski demikian, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa kebijakan diversifikasi alutsista dilakukan untuk menjaga kemandirian pertahanan nasional sekaligus menghindari ketergantungan pada satu negara pemasok. Strategi ini juga dipandang sebagai langkah diplomasi pertahanan guna memperkuat kerja sama strategis dengan berbagai mitra global.
Kedatangan Rafale sendiri dinilai sebagai simbol kemajuan signifikan bagi TNI AU, sekaligus menjadi fondasi bagi transformasi kekuatan udara Indonesia ke arah yang lebih modern, adaptif, dan berdaya gentar tinggi di kawasan.
Sumber: Zona Jakarta
Editor : Tim Redaksi
