Halmahera Tengah,JNTv – Tradisi budaya di Halmahera Tengah kembali menjadi sorotan melalui upacara adat Cukaiba atau Cokaiba, sebuah peninggalan leluhur yang penuh makna simbolis. Upacara ini dipercaya berasal dari kebiasaan pasukan perang yang menutupi wajah mereka dengan topeng, sebagai bentuk penyamaran dan strategi di medan laga.
Dalam dialek masyarakat setempat, istilah penyamaran ini memiliki sebutan berbeda di setiap daerah. Di Maba disebut Ipa Ice, di Bicoli dikenal dengan nama Cunga Ipa, sementara di Weda masyarakat menyebutnya Cogo Ipa. Semua istilah tersebut mengandung arti sama, yaitu “itu bukan dia yang sebenarnya”, merujuk pada identitas yang disamarkan. Dari sinilah kemudian lahir sebutan Cuka Iba atau Coka Iba yang dipakai hingga kini.
Cukaiba tidak hanya bermakna sebagai warisan penyamaran perang, tetapi juga menjadi lambang persatuan dan kekuatan masyarakat adat di Halmahera Tengah. Setiap wujud topeng yang digunakan memiliki filosofi tersendiri dan berkaitan erat dengan simbol keagamaan maupun sosial.
Dalam perkembangannya, tradisi ini melahirkan tiga bentuk utama topeng Cukaiba yang menjadi ciri khas masyarakat Gamrange. Pertama, Cukaiba Ai yang terbuat dari kayu, merupakan simbol milik Raja Maba dan Bicoli. Kedua, Cukaiba Gome yang dibuat dari pelepah batang sagu, dikenal sebagai pusaka Raja Patani. Ketiga, Cukaiba Loyeng yang berasal dari anyaman daun pandan, dimiliki oleh Raja Weda dan Samola.
Ketiga jenis topeng tersebut tidak hanya berbeda bahan, tetapi juga memiliki ciri khas dalam penampilannya. Cukaiba sering kali dihiasi simbol binatang atau wujud mistis lain, yang melambangkan kekuatan serta perlindungan.
Khusus Cukaiba Ai, pertunjukan biasanya dimainkan oleh 13 orang. Angka ini diyakini selaras dengan 13 rakaat dalam shalat—12 orang turun ke medan perang, sedangkan satu lainnya bertahan sebagai simbol penjaga. Filosofi ini menjadi wujud keterikatan antara tradisi adat dengan nilai spiritual.
Selain bentuk fisik topeng, Cukaiba juga melibatkan ritual dan tata cara khusus. Prosesi ini diiringi musik tradisional serta gerakan khas yang mengandung pesan moral, terutama tentang keberanian, kebersamaan, dan kejujuran.
Bagi masyarakat Halmahera Tengah, Cukaiba bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan media pewarisan nilai dari generasi ke generasi. Kehadirannya menjadi pengingat tentang perjalanan sejarah leluhur yang gigih melawan ancaman, sekaligus menjaga marwah identitas budaya.
Kini, Cukaiba terus dilestarikan melalui upacara adat maupun pentas budaya. Tradisi ini tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga potensi besar untuk memperkaya khazanah budaya Indonesia di mata dunia.(**)
