Oleh : Taslim Barakati
JendelaNewsTV.com – Jabatan adalah sebuah amanah, bukan sekadar kursi empuk atau simbol kekuasaan yang dipajang di depan publik. Di balik gelar, tanda pangkat, dan segala fasilitas yang melekat, ada ratusan bahkan ribuan jiwa yang menitipkan harapan. Mereka bukan hanya angka dalam daftar keanggotaan, melainkan manusia yang berhak atas keadilan dan kesejahteraan.
Namun, seringkali jabatan membuat seseorang lupa. Lupa bahwa di luar sana, ada anggota yang setiap hari berjuang dengan penuh kesabaran, bahkan sampai harus “mengemis” keadilan kepada mereka yang mestinya menjadi pelindung dan pembela. Ironisnya, di saat anggota menjerit, sang pemimpin justru asyik menepuk dada dengan kebanggaan semu atas kursi yang diduduki.
Apalah arti jabatan jika hanya menjadi topeng? Apa gunanya pangkat jika yang dipimpin tidak pernah merasakan hangatnya perlindungan? Anggota tidak butuh pemimpin yang sibuk berpose di depan kamera atau berlomba dalam seremoni, mereka butuh pemimpin yang telinganya peka, hatinya terbuka, dan tangannya terulur membantu saat mereka jatuh.
Kita tahu, jabatan itu fana. Hari ini kita berada di atas, besok bisa saja berada di bawah. Hari ini disanjung, besok mungkin dicaci. Maka, seorang pemimpin yang bijak tidak akan terlalu larut dalam gemerlap kekuasaan. Sebaliknya, ia akan menyadari bahwa makna sebenarnya dari jabatan adalah pengabdian—dan pengabdian sejati selalu berpihak pada yang lemah.
Bayangkanlah sejenak, jika engkau seorang pemimpin, lalu melihat anggotamu datang dengan mata sembab, mengadu karena diperlakukan tidak adil, lalu engkau hanya menjawab dengan senyuman basa-basi tanpa tindakan. Apakah engkau layak disebut pemimpin? Bukankah keadilan seharusnya engkau perjuangkan meski harus menantang arus kekuasaan yang lebih besar?
Anggota bukan boneka, bukan juga pion yang bisa dipindahkan sesuka hati. Mereka adalah manusia yang menitipkan kepercayaan. Dan kepercayaan itu, sekali dikhianati, tak akan pernah kembali utuh. Di titik inilah pemimpin diuji: apakah ia masih setia pada sumpahnya, atau justru hanyut dalam gelombang kepentingan pribadi?
Pemimpin sejati tidak diukur dari panjangnya pidato atau megahnya mobil dinas, tapi dari seberapa jauh ia mampu membuat orang kecil merasa dilindungi. Ketika anggota tertindas, pemimpin yang baik turun tangan, bukan cuci tangan. Ketika anggota lemah, pemimpin yang mulia merangkul, bukan menyingkirkan.
Jangan terlalu bangga dengan jabatan, sebab jabatan itu hanya sementara. Sehebat apa pun engkau hari ini, suatu saat akan ada waktunya engkau kembali menjadi orang biasa. Dan ketika itu terjadi, yang akan kau kenang bukanlah seberapa tinggi jabatanmu, melainkan seberapa dalam engkau dikenang oleh orang-orang yang pernah engkau pimpin.
Lebih menyedihkan lagi, jika suatu saat nanti, ketika engkau sudah tidak menjabat, anggota yang dulu engkau abaikan justru berbalik. Mereka hanya mengenangmu sebagai pemimpin yang lupa, yang lebih mencintai panggung daripada rakyatnya, yang lebih sibuk dengan popularitas ketimbang memperjuangkan hak-hak mereka. Bukankah itu sebuah luka yang tak terobati?
Pemimpin adalah pelita. Namun, pelita yang hanya bersinar untuk dirinya sendiri tidak akan pernah mengusir gelap. Ia hanya akan menjadi api kecil yang cepat padam, meninggalkan abu tanpa makna. Pemimpin yang baik adalah pelita bagi banyak orang, yang rela terbakar demi menerangi jalan orang lain.
Kepada para pemimpin, lihatlah sekelilingmu. Dengarkan keluh kesah mereka yang setiap hari berjuang, bahkan dengan suara yang nyaris tak terdengar. Jangan sampai jabatan membutakan hatimu, hingga engkau lupa bahwa mereka adalah alasan engkau berdiri di sana.
Dan kepada anggota, jangan pernah takut menuntut keadilan. Jangan biarkan mulutmu dibungkam oleh mereka yang mestinya melindungi. Keadilan bukan hadiah, melainkan hak. Jika engkau terpaksa harus mengetuk pintu pemimpinmu berkali-kali, lakukanlah, meski terasa seperti “mengemis.” Sebab suatu hari nanti, sejarah akan menuliskan siapa yang berjuang dan siapa yang berpaling.
Seorang pemimpin besar pernah berkata, “Kemuliaan seorang pemimpin bukan pada kekuasaannya, melainkan pada keberaniannya memperjuangkan kebenaran.” Dan kebenaran itu selalu berpihak pada mereka yang tertindas, bukan pada kursi jabatan yang penuh kepalsuan.
Jangan terlalu bangga dengan jabatanmu. Ingatlah, jabatan hanya titipan, tapi amanah adalah tanggung jawab abadi. Jangan sampai engkau dikenang sebagai pemimpin yang tega membiarkan anggotanya mengemis keadilan. Sebab, saat itu, bukan hanya hatimu yang mati, tetapi juga nama baikmu yang terkubur selamanya.
