Halmahera Selatan,JendelanewsTV.com – Suasana panas menyelimuti Desa Toin, Kecamatan Botang Lomang, Kabupaten Halmahera Selatan. Ratusan warga yang sudah lama menahan kecewa akhirnya meluapkan kemarahan mereka dengan aksi demonstrasi dan pemalangan Kantor Desa. Satu tuntutan mereka mengemuka dengan tegas: mereka tidak ingin diwakili oleh siapa pun—mereka hanya ingin Bupati Halmahera Selatan datang langsung ke desa dan membuka palang itu sendiri, Minggu 29 Juni 2025
Aksi pemalangan dimulai sejak pagi hari, di mana warga baik laki-laki, perempuan, hingga pemuda desa, berkumpul dengan membawa spanduk, poster, dan kayu untuk memblokade akses masuk ke Kantor Desa Toin. Tulisan-tulisan di poster mereka memuat pesan-pesan keras, seperti: “Stop Abaikan Kami”, “Kami Bukan Desa Tak Bertuan”, dan “Datang Sendiri, Pak Bupati!”
Menurut keterangan salah satu tokoh Masyarakat, Hartono, aksi ini merupakan puncak dari rasa frustrasi yang selama ini ditahan masyarakat. Ia menyebut bahwa berbagai persoalan menyangkut pelayanan pemerintahan desa, transparansi anggaran, serta sikap acuh dari pemerintah daerah terhadap keluhan masyarakat membuat situasi semakin memanas.
“Kami bukan menolak solusi, tapi kami menolak diabaikan. Sudah cukup banyak perwakilan datang hanya bawa janji. Yang kami mau sekarang adalah kehadiran langsung Bupati Halmahera Selatan di tanah kami ini. Biar beliau sendiri tahu rasa sakitnya jadi warga Toin yang selalu dianggap diam,” tegas Hartono saat diwawancarai di lokasi aksi.
Warga juga menyampaikan bahwa selama ini tidak ada kejelasan terkait sejumlah program pembangunan desa, termasuk penyaluran dana desa ( BLT ), pengembalian uang masyarakat yang sudah memasang meteran listrik mandiri, yang di janjikan akan di ganti uang tersebut memaki dana desa, namun semua itu nihil, serta penyelesaian konflik internal pemerintahan desa yang berlarut-larut.
Dalam orasi yang disampaikan oleh salah satu ibu rumah tangga, Nur Idris, terdengar nada emosi bercampur tangis. Ia mengatakan bahwa anak-anak di desa ini sudah terlalu lama hidup dalam ketidakpastian pelayanan dasar, dan pemerintah hanya datang saat musim politik.
“Kami ini bukan boneka. Kami ini rakyat! Kami yang mengantar Bupati ke jabatannya, tapi kenapa sekarang kami malah ditinggal? Kalau memang beliau pemimpin sejati, datang dan buka sendiri palang ini!” teriak Nur Idris disambut sorak dukungan warga lain.
Tokoh adat dan tokoh agama yang hadir dalam aksi ini menyatakan bahwa jika dalam waktu tiga hari tidak ada itikad baik dari pemerintah kabupaten, maka masyarakat akan memperluas aksi mereka hingga ke kantor kecamatan bahkan kantor bupati.
Aksi ini menjadi penanda jelas bahwa suara rakyat di desa-desa pelosok seperti Toin tidak bisa terus-menerus diabaikan. Mereka bukan sekadar angka dalam statistik, tetapi manusia yang menuntut pemimpin hadir secara nyata, bukan hanya melalui sambutan seremonial.
Redaksi : Limpo
Editor : TB
