Halmahera Selatan JendelanewsTV.com – Opini ini bukan semata-mata mengangkat lembaran sejarah masa lalu, melainkan mengajak kita merefleksikan ulang paradigma pembangunan di Maluku Utara yang selama ini terfokus di darat. Sudah saatnya kita memandang laut bukan sebagai pembatas, melainkan sebagai penghubung kehidupan, budaya, dan potensi ekonomi yang sangat besar. Warisan leluhur kita, yakni jiwa bahari yang kokoh, pengetahuan navigasi, serta kearifan dalam membangun perahu dan kapal, sejatinya adalah kunci masa depan kita hari ini, Kamis/19/06/2025.
Masyarakat Maluku Utara adalah pewaris peradaban maritim yang kaya. Sejarah membuktikan bahwa nenek moyang kita menjadikan laut sebagai jantung peradaban. Dalam catatan Adrian B. Lapian dalam bukunya Pelayaran dan Perniagaan Nusantara, disebutkan bahwa jauh sebelum bangsa Eropa masuk ke wilayah ini, masyarakat Nusantara telah memiliki sistem pelayaran dan perdagangan maritim yang terstruktur. Kemajuan sistem perkapalan, kecakapan navigasi, dan semangat kewirausahaan maritim telah menjadi ciri khas bangsa ini, termasuk di Maluku Utara.
Abad ke-16 menjadi babak baru ketika bangsa Eropa datang ke Nusantara. Portugis menjadi pelopor, disusul Spanyol dan Belanda. Motivasi mereka jelas: rempah-rempah, kekayaan, kejayaan, dan penyebaran agama (3G: Gold, Glory, Gospel). Maluku, sebagai pusat penghasil rempah utama seperti cengkih dan pala, menjadi magnet utama ekspedisi kolonial ini.
Namun, kedatangan mereka juga mengganggu tatanan maritim Nusantara. Sistem perdagangan yang awalnya dijalankan oleh masyarakat lokal berubah menjadi sistem monopoli dan penjajahan. Dalam bukunya Bajak Laut, Orang Laut dan Raja Laut, Adrian B. Lapian mencatat bagaimana masyarakat yang mempertahankan hak-haknya terhadap laut justru dicap sebagai bajak laut. Padahal, tindakan mereka adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan sosial dan ekonomi yang dibawa oleh kolonialisme.
Revolusi Industri di Eropa, khususnya penemuan mesin uap pada abad ke-18, makin mempercepat dominasi kolonial. Kapal-kapal besi raksasa menggantikan perahu kayu tradisional kita. Ruang hidup masyarakat bahari digeser. Kita yang dulunya hidup dengan laut, mulai dipaksa untuk berpikir agraris, mengubah orientasi dari maritim ke kontinental.
Hari ini, ketika dunia kembali memandang maritim sebagai masa depan ekonomi global, Maluku Utara justru belum sepenuhnya mengangkat warisan maritimnya sebagai kekuatan pembangunan. Padahal, secara geografis, provinsi ini adalah laut yang dihiasi pulau-pulau. Masyarakatnya hidup dari laut, bertahan dengan laut, dan seharusnya dibangun untuk kembali berjaya melalui laut.
Warisan empiris leluhur berupa ilmu navigasi tradisional, teknologi perkapalan kayu, serta penguasaan astronomi bahari adalah kekayaan intelektual lokal yang harus direvitalisasi. Namun, pembangunan yang terfokus pada darat, tanpa dukungan infrastruktur maritim yang kuat seperti pelabuhan modern, armada logistik laut, dan pendidikan vokasi bahari, menyebabkan kita tertinggal dari arus globalisasi maritim.
Mengutip sejarawan Kuntowijoyo, sejarah adalah rekonstruksi masa lalu untuk menjawab tantangan masa kini. Maka, sejarah bahari Maluku Utara bukan hanya untuk dikenang dalam museum atau buku pelajaran, tetapi harus dijadikan landasan konseptual pembangunan ekonomi, pendidikan, dan sistem transportasi maritim masa depan.
- Revitalisasi Jalur Dagang Laut: Maluku Utara harus membangun pelabuhan-pelabuhan kelas menengah di pulau-pulau utama sebagai simpul perdagangan antarwilayah dan antarnegara.
- Pendidikan Maritim Berbasis Lokal: Sekolah-sekolah dan universitas perlu membuka jurusan yang mengembangkan teknologi kapal tradisional, logistik laut, dan konservasi maritim.
- Pemberdayaan Ekonomi Bahari: Dorong ekspor hasil laut, pengolahan rumput laut, serta pemberdayaan nelayan berbasis koperasi digital.
- Konektivitas Transportasi Laut: Bangun sistem trayek laut antarpulau yang terintegrasi dengan sistem logistik nasional.
Sejarah tidak hanya mencatat masa lalu, tetapi juga memberi arah untuk masa depan. Maka, mari kita aktualisasikan warisan leluhur bahari sebagai tonggak utama pembangunan Maluku Utara yang adil, lestari, dan berdaulat di atas airnya sendiri.
Oleh: Fahdi Hulum
