Pekanbaru, JendelaNewsTV.com – Prosesi Tegak Payung Panji Adat menjadi momen sakral yang membuka Musyawarah Kerja (Musker) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) 2025, Sabtu pagi (14/6/2025), di halaman Balai Adat LAMR Provinsi Riau.
Upacara ini bukan sekadar seremoni, tetapi sebuah pengukuhan nilai, marwah, dan jati diri masyarakat Melayu Riau yang diwariskan secara turun-temurun. Dengan penuh khidmat, simbol-simbol adat ditegakkan satu per satu dalam gerak dan makna budaya yang mendalam.
Sebagai bagian dari syarat adat, seekor kambing disembelih menandai niat suci, keikhlasan, dan pengorbanan. Empat bendera dikibarkan—putih, kuning, merah, dan hijau—yang masing-masing melambangkan kesucian, kemuliaan, keberanian, dan kesuburan. Sementara payung hitam yang berdiri tegak melambangkan perlindungan dan kekuatan adat sebagai pemersatu.
Tidak hanya berlangsung di Pekanbaru, prosesi Tegak Panji Adat juga dilaksanakan secara serentak oleh seluruh LAMR kabupaten/kota se-Riau, dipimpin oleh Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) dan Dewan Pimpinan Harian (DPH) masing-masing. Hal ini menegaskan kesatuan semangat masyarakat adat Melayu Riau dalam menjaga warisan leluhur.
Ketua Umum DPH LAMR, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menyampaikan bahwa prosesi ini merupakan wujud nyata dari keteguhan masyarakat adat Melayu Riau dalam menghadapi tantangan zaman.
> “Ini bukan seremoni biasa. Ini adalah pernyataan bahwa nilai-nilai Melayu Riau tetap hidup dan relevan, baik untuk masa kini maupun masa depan,” ujarnya.
Lebih dari sekadar simbol budaya, prosesi Tegak Panji Adat menegaskan bahwa adat istiadat tetap menjadi naungan dan pegangan hidup masyarakat Melayu Riau. Di bawah panji yang tegak berdiri, tersimpan tanggung jawab besar untuk menjaga martabat dan hak-hak masyarakat adat.
Dengan semangat tersebut, LAMR kembali menegaskan perannya sebagai benteng budaya dalam menghadapi arus globalisasi. Tegaknya panji adat menjadi isyarat bahwa marwah Melayu Riau tidak akan pudar, tetapi terus hidup, ditegakkan, dan diwariskan. **
